Kenduri Nusantara: Doa Anak Negeri Mengudara Untuk Nusantara

By Mrs Fenny - Maret 02, 2019


Mendung dan gerimis tak menyurutkan warga Solo untuk berduyun-duyun datang ke Benteng Vastenberg. Atas inisiatif sendiri, warga masyarakat Solo mengadakan acara Kenduri Nusantara: Doa Anak Negeri. Acara tersebut bertujuan untuk umbul donga, memanjatkan doa bersama demi keselamatan negeri.


Mengapa diadakan umbul donga?

Warga Solo merasa gelisah dengan situasi bangsa akhir-akhir ini. Bangsa yang mudah tersulut karena perbedaan pendapat. Perbedaan pilihan menggiring masyarakat untuk terkotak-kotak, saling curiga, melempar isu bahkan fitnah, yang kini popular dengan sebutan HOAX. Tak peduli ketika semua itu berujung rusaknya tali persaudaraan dan silaturahim. Indonesia berduka, sebagaimana potongan lagu kebangsaan yang berbunyi:
….Ku lihat ibu pertiwi, sedang bersusah hati… 

Acara dibuka  dengan sajian tari Gambyong dan sambutan dari ketua panitia acara Kenduri Nusantara 2019. Lalu acara inti diisi tausiyah oleh Gus Muwafiq, ulama dari Jawa Timur. Gus Muwafiq mengawalinya dengan ajakan untuk bersyukur melalui cerita tentang negeri laksana surga. Negeri dengan kriteria memiliki keindahan alam, air yang berlimpah dan matahari yang tak ingkar janji.  Indonesia memiliki ketiganya dimana ada banyak negeri yang tidak memiliki salah satu dari ketiganya, yaitu matahari yang tak pernah ingkar janji. Matahari yang terbit, memancarkan sinarnya sepanjang hari, tenggelam di ufuk barat untuk kemudian kembali terbit kembali esok hari. Sepanjang waktu, dalam setahun. Sementara di benua Eropa, Australia dan Amerika ada masa 4 bulan dimana matahari tak menampakkan diri, yaitu saat musim dingin. Inilah yang kemudian menjadikan Indonesia menjadi incaran banyak bangsa, dari dulu hingga kini.

Gus Muwafiq kemudian mengajak hadirin untuk kembali mengenang sejarah. Jas Merah, jangan melupakan sejarah. Bukan untuk hidup kembali di masa sejarah namun untuk mengambil pelajaran. Indonesia tidak hanya memiliki keindahan alam, air yang berlimpah dan matahari yang tak pernah ingkar janji, namun juga kekayaan alam yang berlimpah. Konon, kerajaan Mataram memiliki peradaban yang besar dan mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya tanpa bantuan dari luar. Kerajaan yang berdaulat karena mampu mengolah sumber daya yang ada. Sayangnya, kerajaan Mataram tumbang karena konflik agama. Di kemudian hari, hal tersebut dijadikan pelajaran oleh kerajaan Sriwijaya dan Singosari yang Berjaya karena bisa menghindari konflik karena perbedaan agama yang dianut oleh rakyatnya.

Selain konflik agama, konflik budaya menjadi hal yang rawan menimbulkan perpecahan di Indonesia saat ini. Lebih miris lagi ketika budaya bertubrukan dengan agama. Padahal budaya Indonesia sangat kaya dan menunjukkan betapai tingginya peradaban bangsa Indonesia sejak dulu. Sebut saja gamelan, salah satu alat tradisional Indonesia. Ketika negara lain memiliki alat musik tradisional yang terbuat dari kayu dan tali, Indonesia memiliki gamelan yang terbuat dari logam. Logam yang harus ditambang, diolah dan dibentuk sedemikian rupa hingga memiliki bunyi dengan irama. Alat musik gamelan bisa dimainkan dengan notasi musik international, bahkan memiliki notasi musik tersendiri yaitu laras slendro dan pelog.

Bukti kekayaan budaya Indonesia juga diwakili oleh keanekaragaman jajanan khas kota Solo. Sebut saja ada sosis solo, flossroll solo, lupis, intip, dan juga brem.

Sosis solo berbeda dengan sosis pada umumnya dimana kulitnya tidak digoreng dan isiannya 100% daging giling. Flossroll solo merupakan jenis bolu gulung yang unik. Jika bolu gulung identik dengan rasa manis, flossroll solo memiliki perpaduan rasa gurih dari abon dan pedas dari irisan cabai. Lupis sendiri adalah lontong yang disajikan dengan parutan kelapa dan siraman air gula. Padahal, lontong terbuat dari beras yang digulung dengan daun dan direbus ini biasanya disajikan dengan sayur di daerah lain.

 Tidak hanya kaya dengan aneka jenis kuliner, bangsa Indonesia juga kreatif mengolah pangan. Bahkan makanan yang bisa dibilang hasil kegagalan saja masih bisa dimakan. Sebut saja intip yang merupakan bagian beras yang ketika dimasak menjadi nasi ada bagian yang gosong di bagian bawah periuk. Aih-alih dibuang, intip tersebut dikeringkan, digoreng dan diberi aneka topping seperti caramel, madu dan lainnya. Jadilah makanan khas yang dulunya hanya produk sampingan ketika menanak nasi namun kini sengaja dibuat dan dicetak sedemikian rupa hingga bentuknya cantik. Ada pula brem yang disajikan layaknya bedak dingin ala mbok jamu. Jika bedak dingin memberikan sensasi dingin di kulit wajah dan tubuh, brem memberikan sensasi dingin di mulut.

Brem Khas Solo

Disajikan dengan gaya ringan penuh humor namun berdasarkan data membuat apa yang disampaikan oleh Gus Muwafiq mudah diterima dan dipahami. Tausiyah membuktikan bahwa Bhineka Tunggal Ika itu bukan sekadar isapan jempol belaka. Nenek moyang kita sudah membuktikannya. Perlu kesadaran bahwa Indonesia dibangun oleh beragam budaya, beragam suku bangsa, beragam agama dan keyakinan yang dianut oleh rakyatnya. Jika kesadaran ini sudah mengakar di hati dan pikiran warna Negara Indonesia, bukan mustahil Indonesia kembali berjaya.


Acara kenduri dipilih oleh masyarakat Solo karena kenduri merupakan mekanisme sosial untuk merawat keutuhan, memulihkan keretakan, dan meneguhkan kembali cita-cita bersama sekaligus melakukan control sosial atas penyimpangan terhadap cita-cita tersebut. Sajian tumpeng merah putih menjadi simbol semangat, simbol kecintaan masyarakat Solo pada NKRI. Sebelum dilanjutkan acara makan bersama, yang disebut juga tradisi Kembul Bujana, Gus Muwafiq memimpin acara doa dalam rangka umbul donga. Doa agar masyarakat Indonesia sadar bahwa merawat NKRI menjaga Indonesia adalah tanggung jawab bersama sebagai anak bangsa. Besar harapan warga Solo bahwa acara Kenduri Nusantara: Doa Anak Negeri akan menggugah warga Indonesia lainnya melakukan hal yang sama. Tentu dengan cara dan bentuk sesuai tradisi dan kepercayaan masing-masing. Saatnya untuk menata kembali  ruang sosial, membuka sekat-sekat, membersihkan saluran-saluran kotor dan menyiraminya dengan air kesejukan.


Mari kita rawat dan jaga bersama agar Ibu Pertiwi tak lagi bersusah hati. Salam Cinta Negeri.

  • Share:

You Might Also Like

4 komentar

  1. Sedih banget kalau perbedaan dijadikan alasan bertikai.

    Salut sama warga Solo yang punya inisiatif bikin acara beginian.

    BalasHapus
  2. Meriah banget acaranya sayang jauh huhu, iya prihatin dengan Indonesia zaman now, hobinya saling menjatuhkan, mengolok, berantem, dulu nyaman banget kita beribadah sesuai agama, sekarang makin ajaib..

    BalasHapus
  3. Keren konsep acaranya, semoga perbedaan yg sudah ada sejak dulu ga lagi dijadikan sarana pertikaian ya. Sedih aku liat Indonesia skr

    BalasHapus
  4. Solo memang istimewa ya Fen..konsep acara ini keren banget, mengajak masyarakat untuk bersama mendoakan negeri tercinta..

    BalasHapus

Terima kasih sudah berkunjung dan meninggalkan kesan.